Kamis, 15 September 2011

KOMUNIKASI DAN KONSELING DALAM PELAYANAN KEBIDANAN

BAB VII
STRATEGI MEMBANTU KLIEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A. PENDAHULUAN
Kemampuan dan keterampilan dalam membuat keputusan, terutama dalam masalah kedaruratan merupakan hal yang sangat penting. Dalam konseling pengambilan keputusan mutlak ada ditangan klien, sedangkan Bidan membantu agar keputusan yang diambil klien tersebut tepat. Bila masalah dan kebutuhan klien telah diketahui dengan jelas. Maka bantu klien menyelesaikan masalahnya, terutama yang berkaitan dengan kebidanan.

B. PENYAJIAN
1.      Strategi Membantu Klien dalam Pengambilan Keputusan
Ada empat strategi yang dapat membantu klien mengambil keputusannya.
a.       Membantu klien meninjau kemungkinan pilihannya. Beri kesempatan klien untuk melihat lagi beberapa alternatif pilihannya, agar tidak menyesal atau kecewa terhadap pilihannya.
b.      Membantu klien dalam mempertimbangkan keputusan pilihan, dengan melihat kembali keuntungan atau konsekuensi positif dan kerugiannya atau konsekuensi negatif.
c.       Membantu klien mengevaluasi pilihan. Setelah klien menetapkan pilihan, bantu klien untuk mencermati pilihannya.
d.      Membantu klien menyusun rencana kerja, untuk menyelesaikan masalahnya.
Adapun langkah dalam pembuatan keputusan yang baik antara lain :
a.      Langkah pertama
Identifikasi kondisi yang dihadapi oleh klien.
b.      Langkah kedua
Susunlah daftar kehendak atau pilihan
c.       Langkah ketiga
Untuk setiap pilihan, buatlah daftar konsekuensinya baik yang positif maupun negatif.
2.      Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Dalam pengambilan keputusan, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah :
a.      Fisik
Orang akan mengambil keputusan didasarkan pada pertimbangan fisik. Biasanya memilih hal- hal yang tidak berat dan memforsir tubuh dan tenaga. Ini tentunya didasarkan pada rasa yang dialami tubuh, seperti rasa`sakit, tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
b.      Emosional
Pengambilan keputusan hanya berdasarkan emosi atau perasaan biasa terjadi pada kaum perempuan, sikap subjektivitas akan mempengaruhi keputusan yang diambil. Sehingga ornag akan bereaksi pada suatu situasi secara subjektif.
c.       Rasional
Pengambilan keputusan secara rasional biasa didasarkan pada pengetahuan, dan dilakukan oleh orang- orang terpelajar dan intelektual. Orang – orang mendapat informasi, memehami situasi dan berbagai konsekuensinya.
d.      Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakannya. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan diri melalui kemampuannya dalam bertindak.
e.       Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang ke orang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
f.       Struktual
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
3.      Tipe atau Jenis- Jenis Pengambulan keputusan ( Saraswati, Taringan L.H, 2002):
a.      Pengambilan keputusan untuk tidak berbuat apa- apa karena ketidak sanggupan atau merasa tidak sanggup.
b.      Pengambilan keputusan intuitif, sifatnya segera, langsung diputuskan, karena keputusan tersebut dirasakan paling tepat.
c.       Pengambilan keputusan yang terpaksa, karena segera dilaksanakan.
d.      Pengambilan keputusan yang reaktif. Sering kali dilakukan dalam situasi marah dan tergesa- gesa.
e.       Pengambilan keputusan yang ditangguhkan, dialihkan pada orang lain yang bertanggung jawab.
f.       Pengambilan keputusan secara berhati- hati : dipikirkan baik- baik, mempertimbangkan berbagai pilihan.
4.      Pemberian Informasi Efektif dalam Membantu mengambil Keputusan
Pemberian informasi efektif bila :
a.      Informasi yang diberikan spesifik, dapat membantu klien dalam membuat keputusan.
b.      Informasi disesuaikan dengan situasi klien, dan mudah dimengerti.
c.       Diberikan dengan memperhatikan hal- hal berikut :
1)      Singkat, dan tepat ( pilih hal- hal penting yang perlu diingat klien ).
2)      Menggunakan bahasa sederhana.
3)      Gunakan alat bantu visual sewaktu menjelaskan.
4)      Beri kesempatan klien bertanya dan minta klien mengulang hal- hal penting yang perlu diingat.
5.      Saat – Saat Sulit Dalam KIP/K
a.      Diam
Dalam proses konseling keadaan “ diam “ ( tidak bersuara ) mempunyai banyak makna, antara lain :
1)      Penolakan atau kebingungan klien.
2)      Klien dan konselor telah mencapai akhir suatu ide dan semata- mata ragu menyatakan apa selanjutnya.
3)      Kebingungan karena kecemasan atau kebencian.
4)      Klien mengalami sakit dan tidak siap untuk bicara.
5)      Klien mengaharapkan sesuatu dari konselor.
6)      Klien sedang memikirkan apa yang dilakukan.
7)      Klien baru menyadari ucapannya dan merupakan ekspresi emosional sebelumnya



b.      Klien menangis
Reaksi konselor adalah berusaha menenangkan klien dengan menyentuh badan ( menepuk- menepuk bahu atau memegang tangan klien ) secara hati- hati.
c.       Konselor meyakini bahwa tidak ada pemecahan bagi masalah klien.
1)      Kondisi ini biasanya terjadi karena konselor tidak dapat memecahkan atau membantu menyelesaikan masalah seperti yang diharapkan klien.
2)      Misalnya seorang remaja putri ingin melakukan aborsi,sementara konselor tidak mungkin memenuhi permintaan tersebut. Salah satu langkah yang dapat dilakukan terhadap klien yang mendesak ingin dibantu konselor dalam memecahkan masalahnya adalah dengan mengatakan kepada klien bahwa meskipun konselor tidak dapat mengubah keadaan tetapi konselor akan selalu menyediakan waktu untuk klien, membantu klien mengahadpi saat- saat sulit.
d.      Konselor melakukan kesalahan
Hal utama yang terpenting untuk menciptakan hubungan baik dengan klien adalah bersikap jujur. Menghargai klien adalah salah satu syarat penting dalam konselin. Mengahargai dan mempercayai klien dapat ditujukan dengan cara mengakui bahwa konselor telah melakukan kesalahan. Minta maaflah apabila salah/ keliru.
e.       Konselor tidak tahu jawaban dari pertanyaan klien
Hal ini merupakan kecemasan yang biasa diutarakan konselor. Sudah sepantasnya mengatakan bahwa konselor tidak dapat menjawab pertanyaan klien, tetapi akan beusaha mencari informasi tersebut untuk klien.
f.       Klien menolak bantuan konselor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar